April 12, 2008
Huh…tinggal beberapa bulan lagi, aku akan di tendang keluar dari kampus merah. Rasanya tak percaya bisa berlama-lama begini, aku membayangkan diriku yang dulu, waktu pertama kali menginjakkan kaki di kampus. Serius dan menjalani hari-hari kuliah dengan semangat. Betapa kompak bersama kawan-kawan menjalani kuliah di semester awal. Aku tak mencoba tuk tak melewatkan satu pelajaran pun. itulah semangat seorang mahasiswa baru. Entah apa yang hilang dari ku…?
Kampusku sendiri adalah kampus yang teramat indah, kayaknya ini yang membuat saya betah…pemandangan danau, lapangan luas, juga hutan-hutan buatan terasa sejuk di tengah panasnya udara Kota Makassar. wah bagaimana tanggapan Ibuku bila anaknya yang jadi mahasiswa di situ belum jadi sarjana karena alasaan ingin menikmati pemandangan dan sejuknya kampus. Terlalu klise! memang aku sangat menyukai keindahan alam. Beberapa kali aku bersama kawan-kawan menjelajahi Gunung di Lembanna Malino, Goa Purba di Pangkep-Maros, Pulau Cangke di gugusan kepulauan Pangkep, pantai Bira di Ujung Bulukumba sampai Pekuburan bangsawan Toraja di Kete’ Kesu. Semua itu tak terlupakan, enaklah jadi mahasiswa yang cinta sama alam. Kulit kakiku bisa menyentuh langsung pasir Putih di Bira, bisa pegang-pegang tengkorak di kuburan Toraja, tidur-tiduran di samping Air terjun di Malino sampai main bola di pulau Cangke yang hanya di huni sepasang suami istri. Memang beda rasanya jika langung berada di tempatnya daripada hanya mempolototinya melalui gambar-gambar promosi wisata (pemirsa apa tulisannya sudah betul?) sambil iler mengalir karena ke ingin melancong ke sana. Ibuku mungkin bangga anaknya sudah meliat-liat kalo sulawesi selatan itu unik dan indah.
Tapi bisakah diterima alasanku ini, bagaimana pun juga ketika seorang masuk ke perguruan tinggi tiada yang lain selain Gelar. Dunia kerja pun pasti melihat titel di belakang namaku. Boleh di bilang aku adalah produk gagal dari pabrik manusia handal bernama Kampus. Nasibnya kemudian adalah terbuang. Kemarin Ibu menelpon, beliau sangat khawatir dengan keadaanku apalagi setelah mendengar kabar dari orang-orang kampung jika saya tak selesai tahun ini maka akan segera di pulangkan atau DO ( Drop Out ). Kutenangkan Ibuku, aku bilang kalo aku pasti bisa selesai sebelum di DO. Kucoba untuk membuatnya bersabar…sekali lagi!
1 Komentar |
Self Disclousure |
Permalink
Ditulis oleh chunny rock
Desember 26, 2007
Jangan pernah membayangkan bahwa ketika saya menuliskan kata Mati, anda terbayangkan sosok pemuda yang putus asa atau seorang mujahid yang sedang menuju kerumunan manusia dan di badannya telah terpasang rakitan bom high explosif, siap menjemput ajal, kemudian berharap surga telah membukakan pintunya. Apalagi jika saya menuliskan kalimat “aku mau mati”…Tulisan ini hanyalah refleksi kehidupan dimana hari-hari kita tampak biasa, statis dan terasing. Inilah sebuah pembunuhan!
Ini bukanlah sensasi! justru aku mau hidup seribu tahun lagi* Tak ada keputus-asa- an, saya menjalani hari-hari ini dengan banyak tertawa. Bahkan tadi sore saya masih ingat joke’s yang berlaku, dilontarkan oleh kawan-kawan saya. Masa muda pun tak seru bila tak diisi keriangan, teriakan dan permaianan. Namun, ada hal-hal sepele yang tiba-tiba membuat tawa berhenti, menjadikan banyolan tak lagi lucu. Justru ironi yang hadir.
Di suatu sore, saya kaget ketika seorang kawan mengatakan bahwa kepala saya mulai botak…” wee ngomong2 kepalamu mulai botak ha..ha…!”katanya. cape de!
Di perjalanan menuju kantor**, aku jadi termenung. Kepala botak. Setahun yang lalu, saya masih menyisir rambut ini dengan bangga, kata kawan saya sih!… “Dengan rambut panjang seperti itu kamu mirip Tao Ming Tse”*** saya tahu dia lagi mau menghibur (dasar laki-laki penghibur!!!). Sekarang, saya mendapatkan seonggok kepala dengan rambut yang mulai jarang, tentunya Tao Ming Tse akan protes kalau dia tak lagi mirip dengan saya. Nah, bukankah Tao Ming Tse dalam dirriku telah pergi atau kalau boleh saya bilang Tao Ming Tse telah mati!
bersamboeng…
Leave a Comment » |
Self Disclousure |
Permalink
Ditulis oleh chunny rock
Desember 26, 2007
Awan kelabu masih menghiasi langit Tamalepos, saat itu seorang berjenis kelamin perempuan memberitahukan satu berita penting buat Pierre. Sebelumnya Pierre tak pernah menyangka akan mendapat tantangan tuk menaklukkan hati Putri Dienna. Bocah penantang itu hadir, tanpa tanda ketampanan pada dirinya.
Perempuan itu meyakinkan Pierre bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Bocah itu akan mundur seiring dengan skeptis yang menyertai langkahnya. Juga para pengamat cinta Tamalepos sudah sepakat, Bocah tetaplah bocah, dia hanyalah penggembira, tak lebih.
Pierre sedikit terhibur. “Aku telah melakukan banyak hal pada Putri Dienna. Mulai dari mengantarnya melihat taman Tamalepos sambil menerjemahkan kicau burung-burung, kemudian menceritakan sejarah panjang kemanusiaan. Kadang-kadang aku memberikan hadiah, tentu sebuah buku cerita, Putri sangat menyukainya.
Tapi cinta tak serta merta didapatkan begitu saja. Keramahan Putri bukanlah sepenuhnya penerimaan cinta, kepandaian membawa diri telah diajarkan istana. Putri Dienna menerapkannya dengan baik termasuk menghadapi Pierre, pangeran dari kerajaan Elsimos.
Kerajaan Elsimos dan Tamalepos telah lama beraliansi, sehingga kedua kerajaan ini dijuluki kerajaan kembar. Sebenarnya para petinggi kedua kerajaan sepakat untuk menggabungkan kedua kerajaan ini. dan itu dimulai dengan menjodohkan kedua calon penerus kerajaan. Akan tetapi petinggi kedua kerajaan sepakat perjodohan dilakukan dengan cara lain. Kedua anak muda itu tak pernah diberitahu. Para petinggi percaya bahwa cinta haruslah tumbuh dari dasar hati mereka, karena untuk membangun kerajaan yang kuat haruslah dilandasi oleh cinta. Pierre hanya ingat ketika pertama kali diperkenalkan dengan putri Dienna, di sebuah Taman Tamalepos yang sejuk.
Di saat senja masih memerah, Pierre semakin gelisah. Dia banyak mendengar cerita dari para perempuan juga tetua kerajaan, bahwa Putri Dienna memutuskan untuk membantu raja Nodemus, ayahandanya mengurus kerajaanbersambung…
Leave a Comment » |
Nommo |
Permalink
Ditulis oleh chunny rock
Nopember 12, 2007
Dan memulai itu sangat sulit bagiku…
Usia study di jurusan komunikasi Unhas sebentar lagi berakhir. Pening kepalaku. Tak tenang. Di kepalaku terjadi pertarungan sengit…wah bisa gila saya ini! tapi tak apalah biar aku bisa menembus kemapanan yang ada pada diriku. ya! sebuah cara hidup yang suka mengerjakan sesuatu dengan setengah-setengah!!!
payahhhh….
1 Komentar |
Self Disclousure |
Permalink
Ditulis oleh chunny rock